Bukit Uhud memerah, pertempuran baru saja selesai. Orang-orang mulai bergerak perlahan dengan sisa kekuatan. Darah pekat becampur debu, perih memungut tulang dan daging yang koyak. Mayat bergelimpangan, Rasulullah yang mulia juga terluka. Orang-orang besar gugur dalam puncak kehormatannya. Hamzah bin Abdul Muthalib, Anas bin Nadhar, Mus’ab bin Umair dan puluhan sahabat lainnya menghadap Allah sebagai syuhada yang agung. Rasulullah menguburkan mayat-mayat itu, dua dalam satu kain. Setelah itu Rasulullah bersabda, “ Aku menjadi saksi bagi mereka pada hari kiamat”.
Sementara itu di Madinah, Abdullah bin Ubay yang tinggal saja dirumah bersama kawan-kawannya berkata “Seandainya kalian mengikuti kami niscaya tidak akan ada korban yang berjatuhan diantara kalian”.
*********************************
Fakta Uhud memang begitu, tetapi cara mengurainya tidak sesederhana itu. Saat orang-orang munafik menganggap bahwa bergeraknya kaum muslimin adalah sebagai tindakan menyongsong kematian. Tapi para sahabat tetap pada keputusan musyawarah meskipun dengan resiko terpahit: KEMATIAN!!
154. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu[241], sedang segolongan lagi[242] Telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah[243]. mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang Telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.
[241] yaitu: orang-orang Islam yang Kuat keyakinannya.
[242] yaitu: orang-orang Islam yang masih ragu-ragu.
[243] ialah: sangkaan bahwa kalau Muhammad s.a.w. itu benar-benar nabi dan Rasul Allah, tentu dia tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan.
( QS. Ali Imran: 154 )
Keputusan bergerak pada perang Uhud didasarkan musyawarah yang berasal dari keyakinan yang bulat, tekad yang besar dan dukungan informasi yang akurat. (untuk jelasnya, baca kisah perang Uhud dulu ya bos…). Semua tetap didasarkan pada cara dan teknik yang benar. Setelah itu, bila terjadi hal-hal buruk, maka itu adalah resiko dari sebuah gerak. Sebuah karunia yang punya banyak warna tapi tetap satu makna.
Bepergianlah
Kamu pasti akan mendapatkan pengganti apa yang kamu tinggalkan
Berusaha keraslah
Karena kenikmatan hidup ada pada kelelahan usaha keras
Aku melihat, air yang berhenti itu merusak dirinya
Kalau ia mengalir pasti akan baik
Kalau ia berhenti akan buruk
Kalaulah singa tidak meninggalkan tempatnya, ia tidak mendapat buruan
Demikian juga panah, kalau tidak meninggalkan busur, dia tak akan mengenai sasaran
( Imam Syafi’i )
Semua kebesaran hidup ini dibangun orang-orang yang biasa bergerak. Karena orang-orang inilah hidup ini terus memiliki dinamika.Di dunia dakwah, ada para da’i dan aktivis pergerakan yang tak pernah diam. Mereka tak berhenti membimbing masyarakat, menyusun strategi, bagaimana agar agama ini semakin kokoh. Tetap berjalan dimuka bumi, untuk kegiatan positif apa saja.
Jangan pernah berhenti bergerak kecuali sekedar waktu untuk berbekal dan istirahat sejenak. Hidup ini akan terus berdenyut, dengan ataupun tanpa kita.Terlalu tragis untuk tergilas dinamika hidup lantaran kita memilih banyak diam.
BERDENYUTLAH...BERGERAKLAH...
Agar kita tak mati sebelum waktunya
Sumber :
Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda (Tarbawi Press)
